Tawangmangu Bersholawat 2013

"Tawangmangu Bersholawat"
bersama Habib Syech  Bin Abdul Qodir Assegaf, KH Muwafiq M.Ag,  Gubernur Jateng Bp. Ganjar Pranowo SH, dan Bp. Paryono SH. 
4 Juni 2013, di terminal Bus Tawangmangu

CD 1
untuk memutar video, matikan music backgroung di mixpod
Original Video : di akun youtube saya

CD 2

Islam itu penuh dengan keindahan
khasanah seni dan budayanya menyentuh hati dan mampu menjernihkan akal pikiran kita
Maha Suci Allah atas limpahan Kasih Sayang-Nya.

KH. Agoes Ali Masyhuri



KH. Agoes Ali Masyhuri
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo
Metodologi khusus, yang menjadi andalan Gus Ali, adalah pemberdayaan ekonomi. Seorang kiai, 'guru ngaji', bagi Gus Ali, harus bisa menjadi agen pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Santri-santrinya tersebar diseluruh Indonesia.
Gus Ali dikenal pula sebagai analis masalah sosial, politik, budaya, bahkan pengamat sepak bola jempolan. 

TV 9 Streaming

KAMI HADIRKAN TV9 SURABAYA DI BLOG INI
Siaran TV Muslim Indonesia

Santun Menyejukkan
TV9 yang merupakan televisi milik Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur kami hadirkan dalam Blog ini, agar dapat diakses dari seluruh penjuru tanah air dan luar negeri.
Silahkan KIik DISINI

Kunjungi situsnya TV9 DISINI

Teladan Khalifah Umar

Umar bin Khatab adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti kepentingan rakyatnya. Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana. Pada suatu malam, sudah menjadi kebiasaan bahwa Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi, menginvestigasi kondisi rakyatnya dari dekat. 

Nah, pada suatu malam , ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar suara tangis anak-anak. Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ternyata dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih kecil. Si ibu berkata kepada anak-anaknya, "Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang." Sang Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasak akan segera matang. Sang Khalifah menjadi sangat penasaran, karena yang dimasak oleh ibu itu tidak kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.

Akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu, "Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu..?" tanya Sang Khalifah. "Mereka sangat lapar," jawab si ibu. "Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?" tanya Khalifah. "Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur." jawab si ibu.

Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris. Kemudian Khalifah bertanya lagi, "Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?" "Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...," jawab si ibu. Hati dari sang Khalifah laksana mau copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati terasa teriris-iris oleh sebilah pisau yang tajam. 

"Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat menolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal ?" tanya sang khalifah lagi. "Ia telah zalim kepada saya...," jawab si ibu. "Zalim....," kata sang khalifah dengan sedihnya. "Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!" kata si ibu. Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiri dan berkata, "Tunggulah sebentar Bu ya. Saya akan segera kembali."

Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak.

Jarak antara Madinah dengan rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata, "Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu."

Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal. Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya dzalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

Nah, itulah kisah pemimpin teladan kita kali ini, sahabat Rasulullah SAW, Khalifah Umat Islam yang kedua, Umar bin Khattab.
http://kisahislamiah.blogspot.com/2011/09/umar-bin-khattab-dan-rakyat-jelata.html?showComment=1364396042508#c3830571679921229459

Ubah Bahasa