Tawangmangu Bersholawat

Bersama Gus Ali Shodiqin
(Gus Ali Gondrong)
Rebana Semut Ireng Semarang
MAFIA SHOLAWAT
(Manunggaling fikiran lan ati ing dalem Sholawat)

CD-2

CD-3

CD-4

CD-5

Indahnya Kebersamaan

Bukan masalah Gus Nuril masuk gereja, tapi mari kita ambil hikmahnya

untuk memutar video
matikan music background di mixpod


Semoga bermafaat, Mari kita ciptakan kerukunan antar umat beragama. Kita hidup di negeri yang paling majemuk, terdapat suku - bahasa - ras - budaya - serta keanekaragaman tradisi terbesar dan terlengkap dibanding negara-negara yang lain. Inilah Bhinneka Tunggal Ika. 

Nostalgia ilir - ilir

"Lir - ilir " Nostalgia 

untuk memutar film, matikan music background di mixpod

Lir - ilir produksi Demak tahun 2011, berdurasi 30 menit. Berikut sinopsisnya:
Wahid (10 tahun),seorang anak yang taat beribadah, alim dan pandai di sekolahnya dan Syahid (5 tahun),seorang anak yang terobsesi dengan beduk, dan ia selalu mencari kesempatan untuk belajar menabuh beduk. Mereka adalah kakak-beradik yatim piatu yang tinggal di Lingkungan Kompleks Makam Sunan Kalijaga tepatnya di belakang Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak. Sehari hari Wahid hidup dari uang upah mengisi air ke dalam gentong dudo yang berada di dekat pusara sunan kali jaga dan ia juga mendapatkan bantuan dana masjid, dan masyarakat sekitar. Sejak usia 5 tahun Wahid sudah ditinggalkan oleh ibunya saat melahirkan Syahid adiknya. Sehingga peran ibu digantikan oleh ayahnya yang berprofesi sebagai merbot / penabuh bedug Masjid Agung Demak. Kondisi perekonomian yang sulit membuat sang ayah hanya bisa memberikan air tajin sembari menyanyikan lagu Ilir-ilir kepada Syahid saat dia menjelang tidur. Dan kenangan itu yang selalu diingat Wahid. Hingga suatu hari saat dia harus menggantikan peran ayahnya yang wafat ketika dia berumur 8 tahun.


Dengan begitu susah mereka menjalani hidup sebagai anak yatim piatu, tetapi mereka tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT, dengan selalu beribadah. Walaupun adiknya nakal dan sering mencuri belimbing di kebun orang lain, Wahid berhasil mendidik adiknya menjadi seorang soleh. Dan dia sendiri berhasil menamatkan sekolahnya di gontor, setelah sebelumnya berpisah cukup lama dengan adiknya. Semua itu juga mereka peroleh atas pertolongan Keluarga H Ahmad, ketua takmir Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak yang juga sahabat almarhum bapaknya.

Puisi Untuk Guru Bangsa



untuk memutar video matikan music background di mixpod
Puisi untuk Guru Bangsa

Bapak... 

boleh aku minta tolong diajari...bantu aku memahami 
karena bapak kan katanya presiden paling pandai seantero negri
intelektualitasnya sudah diakui

mbok ya anakmu ini diajari, memahami semua ironi ini

pak....
kenapa mereka dulu selalu menghina, mengatakan... presiden kok buta
padahal kenyataannya...bapaklah sebenarnya yang mengajari kita
untuk melihat manusia seutuhnya, tanpa embel-embel jabatan
atau harta, suku atau agama
tak peduli bagaimana rupanya

pak.....kenapa mereka dulu melecehkan, 
mengatakan... presiden kok gak bisa jalan sendirian
harus dituntun kemana-mana, padahal kenyataannya...
bapaklah sebenarnya yang menuntun rakyat Indonesia
menuju demokrasi dan keadilan yang sesungguhnya

pak....bisa tolong jelaskan 
kenapa orang-orang yang dulu bapak besarkan
malah akhirnya menjatuhkan
menggigit tangan orang yang memberi mereka makan
apa mereka lupa dengan yang bapak ajarkan
bahwa hidup adalah pengabdian 
yang tidak boleh meminta harta atau jabatan

pak....tolong kirimi kami jawaban 
lewat mimpi atau pertanda
lewat simbol juga akan aku terima
pak... tolong pak....tolong aku diajari

...Jakarta, 12 Februari....
Kolaborasi Ebiet G Ade - Inayah Wahid

Tawangmangu Bersholawat 2013

"Tawangmangu Bersholawat"
bersama Habib Syech  Bin Abdul Qodir Assegaf, KH Muwafiq M.Ag,  Gubernur Jateng Bp. Ganjar Pranowo SH, dan Bp. Paryono SH. 
4 Juni 2013, di terminal Bus Tawangmangu

CD 1
untuk memutar video, matikan music backgroung di mixpod
Original Video : di akun youtube saya

CD 2

Islam itu penuh dengan keindahan
khasanah seni dan budayanya menyentuh hati dan mampu menjernihkan akal pikiran kita
Maha Suci Allah atas limpahan Kasih Sayang-Nya.

KH. Agoes Ali Masyhuri



KH. Agoes Ali Masyhuri
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo
Metodologi khusus, yang menjadi andalan Gus Ali, adalah pemberdayaan ekonomi. Seorang kiai, 'guru ngaji', bagi Gus Ali, harus bisa menjadi agen pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Santri-santrinya tersebar diseluruh Indonesia.
Gus Ali dikenal pula sebagai analis masalah sosial, politik, budaya, bahkan pengamat sepak bola jempolan. 

TV 9 Streaming

KAMI HADIRKAN TV9 SURABAYA DI BLOG INI
Siaran TV Muslim Indonesia

Santun Menyejukkan
TV9 yang merupakan televisi milik Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur kami hadirkan dalam Blog ini, agar dapat diakses dari seluruh penjuru tanah air dan luar negeri.
Silahkan KIik DISINI

Kunjungi situsnya TV9 DISINI

Teladan Khalifah Umar

Umar bin Khatab adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti kepentingan rakyatnya. Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana. Pada suatu malam, sudah menjadi kebiasaan bahwa Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi, menginvestigasi kondisi rakyatnya dari dekat. 

Nah, pada suatu malam , ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar suara tangis anak-anak. Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ternyata dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih kecil. Si ibu berkata kepada anak-anaknya, "Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang." Sang Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasak akan segera matang. Sang Khalifah menjadi sangat penasaran, karena yang dimasak oleh ibu itu tidak kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.

Akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu, "Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu..?" tanya Sang Khalifah. "Mereka sangat lapar," jawab si ibu. "Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?" tanya Khalifah. "Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur." jawab si ibu.

Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris. Kemudian Khalifah bertanya lagi, "Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?" "Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...," jawab si ibu. Hati dari sang Khalifah laksana mau copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati terasa teriris-iris oleh sebilah pisau yang tajam. 

"Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat menolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal ?" tanya sang khalifah lagi. "Ia telah zalim kepada saya...," jawab si ibu. "Zalim....," kata sang khalifah dengan sedihnya. "Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!" kata si ibu. Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiri dan berkata, "Tunggulah sebentar Bu ya. Saya akan segera kembali."

Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak.

Jarak antara Madinah dengan rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata, "Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu."

Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal. Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya dzalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

Nah, itulah kisah pemimpin teladan kita kali ini, sahabat Rasulullah SAW, Khalifah Umat Islam yang kedua, Umar bin Khattab.
http://kisahislamiah.blogspot.com/2011/09/umar-bin-khattab-dan-rakyat-jelata.html?showComment=1364396042508#c3830571679921229459

Mantan Pendeta


Ceramah Dr. Yahya Waloni (mantan pendeta)

Pendeta Yahya Yopie Waloni kelahiran Manado 1970
Berawal dari pertemuannya dengan penjual ikan, Hidayah itu datang
Bersama istrinya Lusiana yang kini mengganti namanya menjadi Mutmainnah, beliau memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita dituntun oleh Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli

untuk memutar video di bawah, 
matikan dulu music backgroundnya di mixpod!!
CD 1

CD 2

Download MP3 nya : [CD 1] , [CD 2]
Semoga bermanfaat dan menjadikan pintu hidayah bagi kawan-kawan non muslim untuk mendapatkan cahaya baru dalam kehidupan ini yang akan berlanjut kepada kehidupan abadi di akherat nanti. Aamiin.

KH Abdul Rochim Ki Joko Goro-Goro

Pengajian Tasyakuran Haji
Ngrangkah, Nogosari, Boyolali
di rumah H. Muh. Kasiman - Hj. Suparni
bersama Ki Joko  Goro-goro (KH. Abdul Rochim)
dan Rebana Nurul Jadid Sunan Kalijogo


untuk memutar video di bawah, 
matikan dulu music backgroundnya di mixpod!!
CD 1

CD 2

Download MP3 nya : [CD 1] , [CD 2]
Semoga bermanfaat

Pengajian KH Mahyan Ahmad

Tabligh Akbar
Dalam rangka memperingati Isro' Mi' Roj Nabi Muhammad SAW
Yang diselenggarakan oleh ASWAJA Tawangmangu
Bersama JAMURO Solo
di Terminal Bis Tawangmangu, dihadiri +/- 6000 jama'ah
Tausiah : KH Mahyan Ahmad

untuk memutar video di bawah, 
matikan dulu music backgroundnya di mixpod!!
CD 1

CD 2

Silahkan Download Video-nya dengan Free Youtube Downloader 
bila FreeYoutube Downloader sudah terinstal, klik kanan video >pilih Copy video URL lalu paste URLnya di form downloader, pilih Output format video lalu klik Setting untuk memilih lokasi penyimpanan, bila telah  sesuai keinginan klik Download.
Untuk Download MP3nya : [CD 1] , [CD 2]

Madura Bersholawat

26 Desember 2011
Bersama Habib Syech Abdul Qodir Assegaf - Solo
Acara ini dihadiri ribuan santri dari berbagai penjuru Madura dan Jawa Timur. Walau diguyur hujan, mereka tetap bersemangat melantunkan Sholawat bersama Habib Syech Abdul Qodir Assegaf dari Semanggi - Solo.

LapTop Untuk Sang Nabi


Tengah malam. Lima belas hari menjelang malam kelahiran Sang Nabi.

Kang Sodrun masih belum tertidur. Sepulang tahlilan di rumah tetangga sebelah ia sengaja minum segelas besar kopi pahit untuk menjaga kedua matanya agar tetap melek. Begitulah kebiasaannya bila ingin melakukan banyak hal di malam hari.

Kegiatan siang harinya yang selalu dimulai saat subuh sampai menjelang maghrib menjadikan badannya sering kecapekan dan matanya selalu ingin terpejam tiap kali masuk waktu maghrib. Tapi Kang Sodrun tak bisa menurutinya karena selepas maghrib dan isya masih ada tugas rutin yang mesti ia lakukan hingga menjelang pukul sembilan. Bila setelahnya masih ada pekerjaan lain yang mesti diselesaikan, maka kopi pahit lah satu-satunya cara Kang Sodrun menopang matanya agar tak terpejam sebelum tengah malam. Bahkan kalau perlu hingga subuh datang.

Sampai dini hari ini kopi pahit itu benar-benar mampu menopang matanya tetap melek. Di tangannya tergenggam seikat  lembaran uang berwarna biru tajam. Ia baru saja menghitungnya. Cukup untuk membeli sebuah laptop mini. Hatinya berbisik. Bibirnya tersenyum kecil. Angannya membayang.

Sudah sejak lama memang Kang Sodrun menginginkan membeli sebuah laptop. Baginya barang elektronik yang sudah memasyarakat itu perlu dimiliki untuk menunjang aktifitas menulisnya. Semestinya di rumah seperangkat computer telah ia miliki. Itu ia beli sejak masih sekolah dulu tiga belas tahun yang lalu. Keinginannya memiliki laptop karena computer yang ada dirasa sudah cukup tua. Kinerjanya sudah melambat, monitornya mulai berasa tajam di mata, beberapa hardwarenya sudah bolak-balik diganti dan sudah tak ada lagi di pasaran karena keluaran lama.

Ia juga berharap dengan laptop itu bisa membantu mempermudah pekerjaan Yu Siti, istrinya. Yu Siti yang bekerja sebagai guru di sebuah sekolah menengah itu seringkali bercerita tentang teman-temannya yang sebagian sudah punya laptop dan dengan mudah mengerjakan tugas-tugas mereka di sekolah saat kosong jam mengajar. Apalagi saat ini ia ditunjuk sebagai salah satu guru yang ikut mengampu kelas unggulan. Atasannya sering kali menyindir agar guru yang mengajar kelas unggulan memiliki laptop.

Maka untuk mewujudkan keinginannya itu Kang Sodrun mulai menabung sejak beberapa bulan lalu. Ia tak mau seperti kebanyakan temannya yang lebih suka potong kompas menggunakan uang pinjaman koperasi atau bank untuk memenuhi kebutuhannya. Baginya menabung lebih baik dari pada berhutang, kecuali kalau sudah kepepet. Bagi dirinya menabung memberi pelajaran untuk prihatin dan bersabar dalam memenuhi suatu kebutuhan.

Dua bulan lalu, menjelang lebaran haji,  mestinya uang yang dibutuhkan telah terkumpul. Ia sudah berkeliling survey lapangan untuk mengetahui harga di pasaran dan merek apa yang mau dipilih. Tinggal menentukan kapan ia mau membelinya. Tapi kenyataan berbicara lain. Saat malam takbiran lebaran haji tiba hatinya terbagi menjadi dua, saling berbisik.

“Tegakah kau melewati lebaran haji tahun ini begitu saja tanpa seekor kambing pun yang kau persembahkan pada Tuhanmu?”

“Mengapa tidak? Bukankah berkurban hanya sunnah saja dan dapat dilakukan setiap tahun, sepanjang hidup? Mengapa harus sekarang”

“Betul memang. Tapi ini hari raya kurban dan kau melewatinya dalam keadaan hidup dengan uang di genggaman tangan yang cukup untuk menbeli seekor kambing.”

“Tapi apa harus tahun ini?”

“Lalu kapan? Tahun depan yang umurmu belum tentu sampai besok pagi? Kalaupun umur sampai tahun depan, dapatkah kau pastikan saat itu kau memiliki cukup uang untuk membeli hewan kurban?”

“Tapi uang itu aku kumpulkan untuk membeli laptop.”

“Dengan mengorbankan perintah Tuhan dan Rasulmu? Lihatlah tetangga belakang rumahmu itu. Ia hanya seorang pedagang kecil penjual sayuran. Kau bisa dengan mudah mengira-ngira berapa pendapatannya. Malam ini kau lihat sendiri ia dengan tulus dan penuh kegembiraan menggandeng seekor kambing yang cukup besar untuk diserahkan ke panitia kurban di mushalla, demi keridloan Tuhannya. Tidakkah kau malu pada Tuhanmu? Kepadamu Ia berikan pendapatan yang jauh lebih banyak dan kehidupan yang jauh lebih layak dari tetanggamu itu. Tapi saat Tuhanmu meminta untuk sekali saja dalam setahun berkurban untuk-Nya, kau masih enggan dan lebih memilih menuruti kemauan nafsumu!”

Kang Sodrun tersadar. Malam itu juga, usai shalat maghrib di musholla ia segera meminta istrinya untuk bersiap-siap ikut membeli kambing di tempat langganannya. Ia bawa semua uang tabungannya. Dan tanpa banyak menawar ia dapatkan seekor kambing yang lumayan besar seharga jumlah uang yang ia kumpulkan. Dalam hatinya ia berbisik, “Gusti, aku pilih keridloan-Mu.” Dalam benaknya, bila Allah ridlo apapun akan diberikan pada sang hamba.

Sejak saat itu Kang Sodrun memulai kembali mengumpulkan uang untuk membeli laptop. Ia sangat bersyukur, hingga saat ini uang itu telah terkumpul dan kiranya cukup untuk sebuah laptop mini. Namun malam ini kegelisahan menyuntuki pikirannya.

Lima belas hari lagi adalah malam kelahiran Sang Nabi. Sebagaimana tradisi di kampungnya yang juga selalu ditanamkan oleh orang tua Kang Sodrun, seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap kali malam maulid datang ia dan istrinya selalu berusaha memberikan sedekah berkatan yang dibagi kepada para tetangga dan bagi para pembaca kitab al-barzanji di musholla. Kebiasaan ini ia coba untuk tetap dilestarikan meski dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun.

“Kanjeng Nabi itu makhluk paling istimewa, Drun.” Begitu orang tuanya mengajari. “Gusti Allah tak akan pernah mau menciptakan alam semesta ini kalau tidak ada Kanjeng Nabi. Kehadirannya merupakan nikmat dan rahmat Allah yang terbesar, teragung, dan termulia, bukan saja bagi umat manusia, tapi bagi seisi jagat raya. Istilah qur’annya rahmatan lil ‘alamin. Maka hari kelahirannya paling layak dirayakan, paling layak diagungkan. Sudah semestinya kita sebagai umatnya merayakannya sebagai bagian rasa cinta kepadanya dan rasa syukur kepada Gusti Allah. Salah satu caranya dengan bersedekah di hari kelahirannya.”

Malam ini, saat Kang Sodrun menghitung jumlah tabungannya yang dipersiapkan untuk membeli laptop, ia teringat bahwa setengah bulan lagi malam maulid. Ia butuh sejumlah dana untuk menyambutnya. Ia butuh berbelanja untuk memberikan hadiah bagi para tetangga atas nama Kanjeng Nabi. Dan kini di tangannya telah tergenggam seikat uang. Hatinya menjadi bimbang. Akankah untuk yang kedua kalinya ia undur lagi keinginannya untuk memiliki laptop, demi menghormat Sang Nabi di hari kelahirannya? Atau biarlah maulid tahun ini berlalu begitu saja tanpa hadiah bagi umat Sang Nabi. Toh masih ada cara lain untuk merayakan dan mensyukurinya.

Beberapa lama Kang Sodrun termenung. Ia menimbang. Kegelisahannya justru membangkitkan kembali memorinya pada maulid setahun lalu. Saat itu ia dan istrinya bingung ketika malam maulid makin dekat namun tak ada dana untuk menyambutnya. Sementara keinginan untuk tetap melestarikan ajaran orang tua, untuk menyatakan rasa cinta pada Sang Nabi, begitu besar. Maka ia dan istrinya sepakat untuk tetap merayakan malam maulid meski hanya dengan berkatan sebungkus tape singkong.

“Kalau bisa, Drun, usahakan semampumu untuk memberi sedekah di malam maulid. Semampunya saja. Karena yang sampai kepada Gusti Allah dan Rasul-Nya bukan uang kamu, bukan hadiah berkatan kamu, tapi takwa dan cintamu pada Sang Nabi.” Begitu tutur orang tuanya dulu.

Tapi ternyata Allah menakdirkan lain. Sehari sebelum malam mulia itu datang Kang Sodrun mendapat cukup dana. Maka jadilah keduanya merayakannya dengan berkatan yang membuat para tetangga tersenyum gembira menerimanya. Bukan hanya sekedar tape singkong seperti yang direncanakan.

Mengingat maulid tahun lalu itu kini Kang Sodrun merasa lega. Bibirnya mulai mengembang. Berat nafasnya ia hembus kuat-kuat, membuang sumbatan yang menyuntuki pikirannya. Dalam hatinya ia berbisik; apapun yang akan terjadi akan tetap kupersembahkan hadiah bagi Sang Nabi di hari ulang tahunnya. Semampuku akan kuusahakan membuat Sang Nabi tersenyum bahagia melihat sebagian umatnya dibahagiakan di hari kelahirannya. Insya Allah.

Ditulis oleh Yazede   
MINGGU, 30 JANUARI 2011

Tegal, menjelang Maulid 1432 H
                                                                                               

untuk melihat Video di bawah, 
matikan dulu music background di mixpod!!


Astaghfirullah Rabb-alBarayaa
astaghfirullah min-alkhataayaa
Ya Allah Gusti nyuwun pangaksami
sampun dangu kulo ninggalke agami
infaq sadaqah lan kitab suci
Nyuwun tuntunan Illahi Rabbi

Astaghfirullah Rabb-alBarayaa
astaghfirullah min-alkhataayaa
Ya Allah Gusti kang ndamel jagat
kathah bilahi kawala sambat
punopo coba punopo laknat
istighotsah lan maos shalawat

Astaghfirullah Rabb-alBarayaa
astaghfirullah min-alkhataayaa
Ya Allah Gusti kang Maha Tartil
paringo imam jujur lan adil
negara aman sangka wong jahil
agama adoh akale kancil

Astaghfirullah Rabb-alBarayaa
astaghfirullah min-alkhataayaa

Artis : Ki Sudrun, Hamas / Kiai Kanjeng

The Message - The Story Of Islam


Waktu buka-buka file aku kesandung kata "The Story of Islam". Jadi inget film "The Message" yang mengisahkan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Dulu film ini sempat dilarang beredar di Indonesia [indocinema], tetapi akhirnya diputar juga di bioskop2 dan di Stasiun TVRI. Sejenak coba search di google dapet deh sebuah blog http://di-download.blogspot.com/2010/08/film-message-story-of-islam.html . Alhamdulillah bisa Download filmnya juga :


Petikan bagian terakhir film yg berisi pesan Rosulullah SAW 
"Wahai umat manusia. Dengarlah baik-baik.
Aku mungkin tidak ada bersamamu lagi.."
"Orang-orang yang lemah hendaklah kamu beri makan dan
berikan pakaian seperti yang kamu pakai."
"Apabila kamu bertemu dengan Allah kelak, orang-orang ini
yang akan menghalalkan perbuatanmu"

"Kalian semua yang ada di sini hendaklah
mengingatkan orang-orang yang tidak ada di sini"
"Kalian semua berasal daripada Nabi Adam, dan yang terbaik
di antara kamu ialah orang yang paling menghormati Allah"
"Pikirkanlah secara mendalam apa yang aku katakan.
Hapuskanlah semua permusuhan"

"Kamu harus ingat bahwa semua orang Islam
adalah bersaudara"
"Tidak ada perbedaan bangsa dan taraf di antara
orang-orang Islam"
"Janganlah mengambil apa-apa dari saudaramu
melainkan yang telah diberi dengan ikhlas"
"Jangan menindas dan jangan pula ditindas"

"Wahai pengikut-pengikutku,
aku hanyalah seorang manusia biasa"
"Mungkin malaikat maut akan mengunjungiku tidak lama lagi"
"... dan aku akan mati."
"Tapi aku telah tinggalkan sebuah kitab, wahyu-wahyu Tuhan:
Al-Quran"
"Yang akan menerangi dan memandu kalian."

"Hari ini aku telah sempurnakan agama ini untuk kalian"
"dan melengkapkan pemurniaanku kepadamu"
"dan telah memilih Islam sebagai agamamu."

Pada 8 Jun 632,  berumur 63 tahun, Muhammad meninggal dunia...
 agama yang di ajar olehnya bersemayam di hati manusia
Nabi Muhammad telah meninggal .. 
ketahuilah bahwa Allah masih hidup dan Dia tidak bisa mati."

Sampai hari ini masih ada...dan bertambah yang datang ke Baitullah
Setiap orang bergabung untuk beribadah dan menyembah ALLAH
TUHAN YANG SATU

Mohammad, Messenger of God (Muhammad, Utusan Tuhan) (dijudulkan kembali The Message untuk pengeluaran A.S.) adalah sebuah filem diarah oleh Moustapha Akkad, menceritakan kisah awal perkembangan Islam ketika zaman Nabi Muhammad. Dikeluarkan dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris (nama Arab adalah الرسالة-- Ar Risalah), Muhammad, Utusan Tuhan menjadi suatu pengenalan pada sejarah awal Islam. Walaupun film ini berkisar sekitar Muhammad, gambarnya tidak ditunjuk (tidak diperlihatkan) sepanjang film ini, dengan menghormati adat-adat Islam yang melarang sebarangan menampilkan gambar nabi dan para sahabat baginda. Sebaliknya para pemain dibiarkan untuk berbicara di depan kamera.
Ketepatan filem ini telah disahkan sendiri oleh ahli sarjana dan sejarah Islam Universiti Al-Azhar, Kaherah, dan Kongres Islam Tertinggi Syiah di Lubnan (menurut Wikipedia).

Sinopsis The Message:
Sebagaimana judulnya film "The Message" menceritakan sejarah perjalanan Muhammad SAW yang secara garis besarnya sbb :

Muhammad SAW menerima wahyu digua Hira dan setelah itu baliau berusaha mengingatkan kaum Quraisy. Namun yang diperoleh Muhammad SAW jutru ejekan, hinaan dan terror serta siksaan kepada beberapa pengikut beliau yang jumlahnya baru hanya puluhan.

Terror semakin hari semakin menegangkan sehingga akhirnya Muhammad SAW diperintahkan Allah SWT untuk HIJRAH ke Madinah. Sesampainya di Madinah Muhammad SAW disambut oleh masyarakat Madinah dan dibuat rumah & tempat Ibadah dan dikenalah saat itu pemanggilan umat melalui Adzan.

Semakin hari umat Islam semakin berkembang di Madinah, namun disisi lain dikota Mekah jutsru sebaliknya banyak provokasi dan ejekan serta fitnah dilakukan kaum Quraisy atas diri Muhammad khususnya oleh Abu Sofyan yang sangat membenci Muhammad SAW.

Selanjutnya Allah SWT memerintahkan Muhammad SAW untuk menyerang Mekah (dikenal dengan Perang Badar) supaya tidak terjadi Fitnah lagi dengan hasil kemenangan yang gemilang dipihak kaum Muslim.

Sebagai tindak balasan kaum Quraisy menyerang kaum Muslim (dikenal dengan Perang Uhud) dengan hasil kemenangan dipihak kaum Quraisy yang saat itu Abu Sofyan menyatakan keadaan sudah 1 : 1 perang Badar sudah dibayar dengan perang Uhud yang kemudian di lanjutkan dengan perjanjian perdamaian. Dalam kondisi perdamaian, ternyata banyak kaum Quraisy yang tergugah dan dibuka pintu hatinya oleh Allah SWT termasuk Abu Sofyan sendiri & keluarganya masuk Islam.

Akhirnya datanglah waktunya perintah Allah SWT kepada Muhammad SAW untuk kembali ke Mekah untuk melakukan Ibadah Haji sekaligus mengambil alih Ka'bah dan mengembalikannya menjadi Rumah Allah SWT ( Baitullah).

Dengan di iringi oleh ribuan umat Islam, Muhammad SAW datang ke Mekah dan disambut oleh penduduk Mekah dengan rasa ketakutan dan terjadilah pengambil alihan Ka'bah. Semua berhala dikeluarkan, dikumpulkan, dibakar sedang yang terbuat dari Emas dikumpulkan untuk dizakatkan kembali kepada rakyat.

Sejak saat itu Islam semakin berkembang dan mendobrak hati setiap manusia dibumi Mekah dan Madinah serta merobah akhlak dan pola hidup jahiliyah yang mereka anut sebelumnya.

Mohon maaf bila salah dalam menuliskan sinopsis film ini.



untuk melihat potongan Video di bawah, 
matikan dulu music backgroundnya di mixpod!!

Dibintangi oleh:
Anthony Quinn - Hamzah
Irene Papas - Hind
Michael Ansara - Abu Sufyan

Dibantu oleh:
Johnny Sekka- Bilal ibn Ribah
André Morell - Abu-Talib
Wolfe Morris - Abu-Lahab
Rosalie Crutchley - Somaya

Islam sebagai Rahmat untuk Seluruh Alam

132 Orang Amerika Bersyahadat, mereka masuk Islam. Begitulah Hidayah bagi mereka. Karena Islam itu Rahmad bagi seluruh alam.

untuk melihat Video di bawah, 
matikan dulu music background di mixpod!!

Islam sebagai Rahmat untuk Seluruh Alam

Kalimat “Negara Islam” telah menjadi momok yang menakutkan, terutama sejak dipaksakannya rekayasa sejarah yang mendiskreditkan Islam dan gerakan Islam. Digambarkan betapa seramnya hukum Islam jika diterapkan, betapa sadisnya hukum rajam dan potong tangan dan seterusnya.

Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan bid’ah yang berjihad tanpa ilmu, yang menambah rusaknya gambaran Islam di mata awam. Yang akibatnya orang awam dan non-Islam mengira gerakan jihad identik dengan terorisme, perampokan, penjarahan, dan seterusnya.

Akhirnya Islampobia menjalar di masyarakat, bahkan orang-orang yang berstatus Muslim pun takut kalau hukum Islam diterapkan di Indonesia Raya ini. Padahal kalau mereka mau melihat Islam dari sumbernya yang asli dari Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman generasi-generasi terbaik yang dipuji Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan dapati Islam adalah rahmat dan kasih sayang untuk seluruh alam.

Allah ciptakan syariat ini dan Allah utus Rasul-Nya adalah sebagai bukti kasih sayang-Nnya kepada seluruh manusia. Allah berfirman: “Tidaklah Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya: 107)

Ibnu Abbas radliyallahu `anhu berkata tentang ayat ini: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka Allah tuliskan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Adapun orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun mendapat rahmat dengan datangnya Rasul yaitu keselamatan dari adzab di dunia, seperti ditenggelamkannya ke dalam bumi atau dihujani dengan batu.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/222)

Oleh karena itu ketika malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam keadaan beliau terusir dari kaumnya, dilempari dengan batu di Thaif hingga berdarah kakinya, duduk di luar kota tanpa kawan, bermunajat kepada Allah. Malaikat itu berkata: “Aku diutus Allah untuk mentaati perintah-Mu. Jika engkau menginginkan agar aku menimpakan gunung ini kepada mereka aku akan laksanakan.” Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, berilah hidayah pada mereka karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.” Melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berdoa seperti itu, Jibril mengatakan: “Maha benar Allah yang menamakanmu ra’ufur rahim.” (lihat Nurul Yaqin hal. 56)

Inilah bukti kasih sayang beliau kepada seluruh manusia. Jika beliau diberi pilihan doa yang maqbul terhadap kaumnya apakah dilaknat dan diadzab ataukah diberi hidayah, tentu beliau memilih berdoa agar Allah memberikan hidayah.

Pernah suatu hari beliau didatangi oleh Thufail Ad-Dausi. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus menentang dan menolak dakwah ini. Maka doakanlah agar Allah menghancurkan mereka.” Maka Rasulullah pun menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya. Para shahabat yang ada di situ berucap: “Binasalah Daus!” Ternyata Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengucapkan doa: “Ya Allah, berilah hidayah pada suku Daus dan bawalah mereka kemari” (beliau mengucapkannya tiga kali). (HR. Bukhari dan Muslim).

Doa beliau ternyata maqbul. Suku Daus datang berbondong-bondong kepada Nabi untuk masuk Islam.

Demikian pula diriwayatkan dari Muslim dengan sanadnya kepada Abu Hurairah radliyallahu `anhu bahwa dia berkata: Pernah dikatakan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, doakanlah kejelekan bagi musyrikin.” Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menjawab:

“Aku tidak diutus sebagai tukang laknat, melainkan aku diutus sebagai rahmat.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Hanya saja aku diutus sebagai rahmat yang diberikan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3 / 222).

Maka Islam adalah agama kasih sayang, dibawa oleh seorang penyayang dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Negara Islam Mengapa Takut?

Kalau demikian kenyataannya mengapa kita mesti takut terhadap munculnya negara Islam, negara yang mengayomi rakyat semesta dan membawa bangsa kepada kemakmuran yang hakiki, yang memberi kesempatan kepada rakyat non Islam untuk menjalankan agamanya sambil melihat kesempurnaan syariat Islam sehingga suatu saat mereka akan masuk Islam tanpa paksaan. Dan ini berarti rahmat yang lebih sempurna lagi bagi mereka.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin untuk mengganggu orang-orang non-Islam yang hidup sebagai kafir dzimmni. Yaitu orang kafir yang termasuk warga negara Islam yang dilindungi selama mereka mentaati peraturan-peraturan negara dan membayar jizyah (semacam upeti atau pajak). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengijinkan kalian untuk masuk ke rumah orang-orang ahli kitab kecuali dengan seijin mereka, tidak boleh memukul mereka dan mengambil buah-buahan mereka selama mereka memberikan kepada kalian kewajiban mereka.” (HR. Abu Dawud).

Demikianlah warga negara non-Islam diberikan hak-haknya dan dijaga hartanya, tidak boleh dirampas hartanya atau dibunuh jiwanya dengan dhalim selama mereka mentaati peraturan-peraturan negara Islam, walaupun kita sama-sama tahu bahwa kedudukan mereka lebih rendah dari kaum Muslimin, sebagaimana ucapan Umar bin Khattab radliyallahu `anhu: “Rendahkanlah mereka tapi jangan dhalimi mereka.” (Fatawa 28 / 653)

Demikian pula orang-orang non-Muslim yang bukan warga negara tetapi terikat perjanjian damai. Seperti para pendatang dari negara asing yang tidak dalam keadaan berperang (dengan Muslim) atau dalam kata lain terikat perjanjian damai. Maka kita tidak boleh mengganggu, apalagi membunuh mereka selama mereka mengikuti peraturan-peraturan negara Islam. Demikian pula duta-duta asing yang tinggal di negara Islam. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengancam orang-orang yang mengganggu atau mendhalimi mereka. Mereka ini distilahkan dengan kafir mu’ahhad (yaitu terikat perjanjian):

“Ketahuilah barang siapa mendhalimi seorang mu’ahad; atau mengurangi hak-haknya; atau membebaninya di luar kemampuannya; atau mengambil sesuatu daripadanya tanpa keridlaannya. Maka aku akan menjadi penentangnya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 1 / 807).

Apalagi membunuh seorang mu`ahad, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam lebih keras lagi mengancamnya: “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad, maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal harumnya surga didapati dari jarak 40 tahun perjalanan.” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu para duta-duta asing atau tamu-tamu asing yang non-Muslim tidak perlu khawatir masuk negara Islam dan tidak perlu takut berdirinya negara Islam di bumi persada Indonesia ini karena Islam merupakan rahmat untuk seluruh manusia.

Bahkan kalau pendatang non-Muslim itu merupakan utusan, walaupun utusan itu dari negara kafir yang sedang berperang dengan negara Islam sekali pun, mereka tidak perlu takut karena Islam dengan rahmatnya tidak membolehkan menangkap, menahan atau membunuh para utusan (yang diistilahkan dalam syari’at dengan wufud).

Pernah suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam didatangi dua orang utusan dari Musailamah al-kadzab, seorang nabi palsu yang memusuhi Rasulullah. Kemudian Beliau bersabda: “Apakah kalian mau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Mereka berkata: “Kami bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasulullah.” maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda: “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya! Kalau saja aku membolehkan untuk membunuh seorang utusan tentu akan aku bunuh kalian berdua!”

Bahkan walaupun utusan kafir tersebut kemudian masuk Islam, Rasulullah tetap memerintahkannya untuk kembali kepada kaum yang mengutusnya sebagaimana diriwayatkan dari Abu Rafi’ sebagai berikut: Aku diutus oleh orang-orang kafir Quraisy menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Ketika aku melihat beliau, masuklah Islam ke dalam hatiku. Maka aku mengatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak akan kembali kepada mereka selama-lamanya.”

Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak akan melanggar perjanjian dan tidak akan menahan para utusan. Maka kembalilah engkau! Kalau pada dirimu tetap ada keimanan seperti sekarang ini maka kembalilah engkau kemari.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Ahmad. lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 6 / 316).

Dalam riwayat lain dikatakan: “Sesungguhnya aku tidak melanggar janji dan tidak akan menangkap seorang utusan.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Inilah Islam, inilah keadilan. Tidak akan didapati kebijaksanaan yang seperti ini dalam agama lain. Hanya saja orang-orang bodoh dan para ahli bid’ah merusak gambaran yang indah ini dengan melanggarnya, atau dengan mengada-adakan aturan-aturan baru (bid’ah) dan kebijaksanaan-kebijaksanaan sendiri yang mereka anggap baik dengan emosi dan hawa nafsunya. Yang akhirnya justru merusak gambaran Islam dan membuat manusia takut kepadanya.

Rahmat Islam dalam Perang

Demikian pula dalam peperangan, Agama Islam tidak lepas dari sifatnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan peraturan-peraturan dan hukum-hukum perang. Siapa yang boleh dibunuh dan siapa yang tidak. Bolehkah merusak jasad musuh atau tidak, dan seterusnya. Setiap melepas suatu pasukan untuk berperang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selalu memberikan wasiat kepada mereka, yang berisi nasihat dan peraturan peperangan. Di dalamnya kita akan dapati rahmat dan kasih sayang. Simaklah wasiat beliau berikut ini:

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya dari Aisyah radliyallahu `anha, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam jika mengutus seseorang komandan yang membawa sebuah pasukan –besar atau kecil– beliau mewasiatkan kepada pribadinya untuk bertakwa kepada Allah dan mewasiatkan untuk kaum muslimin dengan kebaikan.

Kemudian bersabda: “Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah! Perangilah orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah tapi jangan mencuri rampasan perang, jangan ingkar janji, jangan merusak jasad musuh, jangan membunuh anak-anak. Jika kalian menemui musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah mereka kepada tiga perkara. Jika mereka menerima salah satunya, maka terimalah dan berhentilah (tidakmemerangi): Ajaklah kepada Islam. Kalau mereka mengikuti ajakanmu, maka terimalah dari mereka dan tahanlah peperangan. Ajaklah kepada Islam. Kalau mereka menyambut ajakanmu, maka terimalah dan ajaklah untuk pindah (hijrah) dari desa mereka ke tempat muhajirin (Madinah).

Kalau mereka menolak, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa mereka dianggap sebagai orang-orang arab gunung (nomaden) yang Muslim. Tidak ada bagi mereka bagian ghanimah (pampasan perang) sedikit pun kecuali jika mereka berjihad bersama kaum muslimin. Kalau mereka menolak (untuk masuk Islam) maka mintalah dari mereka untuk membayar jizyah (upeti) (sebagai orang-orang kafir yang dilindungi). Kalau mereka menolak, maka minta tolonglah kepada Allah untuk menghadapi mereka kemudian perangilah.

Jika engkau mengepung penduduk suatu benteng, kemudian mereka menyerah ingin meminta jaminan Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kau lakukan. Tetapi jadikanlah untuk mereka jaminanmu, karena jika kalian melanggar jaminan-jaminan kalian itu lebih ringan daripada kalian menyelisihi jaminan Allah. Dan jika mereka menginginkan engkau untuk mendudukkan mereka di atas hukum Allah, maka jangan kau lakukan. Tetapi dudukkanlah mereka di atas hukummu karena engkau tidak tahu apakah engkau menepati hukum Allah pada mereka atau tidak.” (HR. Muslim dalam Kitabul Jihad bab Ta’mirul Imam no. 1731)

Di awal wasiatnya Beliau memperingatkan untuk jangan mencuri, jangan ingkar janji, jangan merusak jasad musuh, jangan membunuh anak-anak, dan seterusnya. Sebuah nasihat yang merupakan kasih sayang Islam kepada seluruh manusia walaupun terhadap orang kafir.

Kemudian Beliau menganjurkan untuk memberikan pilihan kepada musuh. Apakah mereka akan masuk Islam atau membayar jizyah yang berarti mereka akan selamat; atau tidak mau memilih keduanya yang berarti perang. Ini merupakan kasih sayang yang sangat besar, memberikan kesempatan kepada musuh untuk selamat dunia dan akhirat. Kalau mereka memilih Islam berarti mereka selamat di dunia dan di akhirat. kalau memilih jizyah berarti selamat di dunia. Sedangkan kalau mereka tidak ingin selamat, maka barulah mereka diperangi. Pantaskan?!

Selanjutnya Beliau menasihatkan dalam memberikan keputusan terhadap musuh tidak boleh mengatasnamakan Allah. Karena bisa jadi dia tidak tepat atau tidak mencocoki hukum Allah dalam memutuskan. Wanita juga termasuk pihak yang tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Islam dengan rahmatnya tidakmembolehkan pembunuhan terhadap wanita.

Pernah pada suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berjalan bersama pasukannya dalam suatu peperangan. Kemudian Beliau melihat orang-orang berkerumun pada sesuatu, maka beliau pun mengutus seseorang untuk melihatnya. Ternyata mereka mengerumuni seorang wanita yang terbunuh oleh pasukan terdepan. Waktu itu pasukan terdepan dipimpin oleh Khalid bin Walid. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda: “Berangkatlah engkau menemui Khalid dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah melarang engkau untuk membunuh dzuriyah (wanita dan anak-anak, ed) dan pekerja / pegawai.” (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Katakan pada Khalid jangan ia membunuh wanita dan pekerja.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thahawi. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 6 / 314).

Dalam riwayat yang lebih shahih dikatakan: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam melihat seorang wanita terbunuh dalam suatu peperangan. Maka beliau pun mengingkari pembunuhan wanita dan anak-anak.” (Muttafaqun `alaihi)

Dari riwayat-riwayat ini jelas bahwa wanita dan anak-anak tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Sedangkan pegawai atau pekerja yang dimaksud adalah warga sipil yang tidak ikut dalam peperangan. Mereka ini juga tidak boleh dibunuh. Demikianlah peraturan Islam, betapa indahnya peraturan tersebut. Kaum muslimin sudah mengenal istilah “warga sipil” yang tidak boleh dibunuh sejak turunnya Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu. Inilah kasih-sayang Islam yang datang sebagai rahmat bagi seluruh alam termasuk kepada musuhnya sekali pun.

Rahmat dalam Hukum Had

Termasuk dalam hukum had dan qishas, kasih sayang Islam tidak pernah hilang. Di samping hukum itu sendiri memang membawa rahmat, penerapannya pun tidak sembarangan. Membutuhkan penyelidikan dan kepastian serta masih terkait dengan tuntutan korban atau maafnya.

Seperti hukum qishas, hukum seorang yang membunuh adalah dibunuh pula. Hukum ini membawa rahmat kepada seluruh kaum muslimin yaitu keamanan dan ketentraman. Bahkan hukum yang sepintas terlihat akan membawa korban lebih banyak, ternyata bagi orang yang cerdas akan terlihat bahwa sesungguhnya hukum ini justru menjaga kehidupan. Allah berfirman : “Sesungguhnya pada hukum qishash ada kehidupan bagi kalian wahai orang yang cerdas, semoga kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)

Namun hukum ini pun terkait dengan tuntutan keluarga korban. Jika mereka memaafkan maka tidak dilakukan hukum bunuh melainkan membayar diat, semacam uang denda atau tebusan senilai harga seratus ekor unta yang diberikan kepada keluarga korban. Ini pun merupakan rahmat dan keringanan dari Allah untuk mereka sebagaimana Allah katakan sendiri dalam ayat-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaknya (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (Al-Baqarah: 178)

Ini pun kalau benar-benar terbukti ia membunuh dengan sengaja, kalau ternyata tidak sengaja maka tidak ada qishas yang ada adalah diat. Bahkan kalau keluarga korban akan menginfakkan tebusan tersebut kepada sipembunuh dan mema’afkannya, berarti ia tidak perlu membayar diat.

Walaupun yang dibunuh adalah seorang kafir mu’ahad yang terikat perjanjian, tetap wajib bagi si pembunuh yang Muslim membayar diat kepada keluarga korban serta memerdekakan seorang budak. Tetapi tidak ada qishas baginya. Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman: “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu) kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu padahal ia mukmin, (maka hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin.

Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara bertaubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 92)

Sedangkan hukum potong tangan bagi pencuri atau hukum cambuk (bagi penzina yang belum menikah) dan rajam (bagi penzina yang telah menikah) dan lain-lain merupakan kejahatan yang jika sudah sampai kasusnya kepada pemerintah maka harus ditegakkan hukum padanya. Inipun sesungguhnya merupakan rahmat bagi seluruh kaum muslimin bahkan seluruh manusia.

Hukum potong tangan bagi pencuri -misalnya– membawa keamanan dan ketenangan bagi seluruh rakyat. Hukum cambuk dan rajam bagi penzina membawa keselamatan bagi seluruh manusia dari berbagai penyakit-penyakit kelamin disamping menjaga keturunan dan nasab, agar tidak tercampur dan kacau.

Hukum-hukum ini pun tidak begitu saja diterapkan, tetapi melalui proses dan aturan-aturan yang jelas. Seperti pada hukum potong tangan, tidak semua pencuri di potong tangannya. Jika ia mencuri di bawah tiga dirham, maka ia tidak dipotong tangannya. Berarti ada jumlah tertentu yang menyebabkan seorang pencuri mendapatkan hukuman potong tangan. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Jangan dipotong tangan seorang pencuri kecuali pada pencurian seperempat dinar ke atas.” (muttafaqun ‘alaihi. Dengan lafadh Muslim).

Sedangkan dalam riwayat Bukhari dengan lafadh sebagai berikut: “Dipotong tangan seorang pencuri pada pencurian seperempat dinar ke atas.” (HR. Bukhari)

Seperempat dinar adalah tiga dirham, karena satu dinar adalah duabelas dirham. Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang juga dirkeluarkan oleh bukhari dan muslim disebutkan bahwa Rasulullah memotong tangan seorang pencuri yang mencuri sebuah tameng seharga tiga dirham: “Dari Ibnu Umar radliyallahu `anhuma bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam memotong tangan pada pencurian sebuah tameng seharga tiga dirham.” (Muttafaqun `alaihi)

Seperti kita katakan tadi bahwa hukum ini dilaksanakan jika sudah sampai kasusnya pada pemerintah. Adapun jika belum sampai kasusnya pada pemerintah, maka dianjurkan untuk saling memaafkan dan tidak saling menuntut. Abu Majidah menceritakan: Pernah pada suatu hari aku duduk bersama Abdullah bin Mas’ud radliyallahu `anhu, maka beliau pun berkata: Aku ingat orang pertama yang dipotong tangannya oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Waktu itu didatangkan seorang pencuri kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Lalu beliau pun memerintahkan untuk dipotong tangannya. Aku melihat wajah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sepertinya memendam kekecewaan. Maka para shahabat pun berkata: “Wahai Rasulullah, sepertinya engkau tidak suka orang itu dipotong tangannya?” Maka beliau pun bersabda: “Apa yang menghalangiku untuk memotongnya?” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah kalian menjadi pendukung-pendukung setan terhadap saudaramu! Sesungguhnya tidak pantas bagi seorang imam jika telah sampai kepadanya hukum had kecuali harus menegakkannya. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan cinta pada pemaaf. Maka saling memaafkanlah kalian dan saling memaklumi. Bukankah kalian suka kalau Allah mengampuni kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Baihaqi. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah 4 / 181).

Demikianlah kasih sayang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang diutus oleh Allah yang Maha Penyayang untuk menebarkan kasih sayang kepada seluruh alam. Kemudian mengenai hukum cambuk dan hukum rajam bagi para pezina.

Apakah ini kalian anggap menghalangi kebebasanmu dalam bergaul ? Kalau kalian cerdas dan tidak sempit pandangan, kalian akan melihat bahwa hukum ini menjaga dan melindungi istrimu, anak perempuanmu, bibimu, saudara perempuanmu dan seterusnya. Bukankah ini rahmat dan kebaikan bagimu?

Pernah seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam meminta ijin untuk berzina. Maka dengan sabar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menerangkan kepadanya cara berfikir yang benar: “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada ibumu?” Anak itu menjawab: ” Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridla.” “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada istrimu?” Anak muda itu menjawab: “Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridla.” Demikian seterusnya Beliau menanyakan bagaimana kalau terjadi perzinaan itu pada keluarganya, anak perempuannya, kakak perempuannya, bibinya, ternyata dia tidak ridla. Maka beliaupun bersabda: “Kalau begitu orang lain pun tidak ridla perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka, istri-istri mereka, anak-anak perempuan mereka, saudara-saudara perempuan mereka, atau pun bibi-bibi mereka.”

Inilah hikmah ditegakkannya hukum bagi para pezina dengan cambuk atau rajam. Menjaga istri-istri kita, anak-anak perempuan kita, ibu-ibu kita, saudara-saudara perempuan kita, bibi-bibi kita, dan seterusnya. Di samping itu juga penerapannya tidak sembarangan, harus didatangkan empat saksi untuk ditegakkannya hukum ini. Dan saksi-saksi itu harus mengetahui betul kejadiannya. Bahkan harus yakin betul kalau “timba telah masuk ke dalam sumurnya”. Adapun dugaan, prasangka, atau melihatnya berpelukan, berciuman dan lain-lain belum bisa diterima sebagai saksi sampai ia yakin betul bahwa “timba telah masuk ke dalam sumurnya”.

Empat saksi dalam keadaan yang seperti ini sangat susah didapat. Keadaan seperti ini tidak akan didapat kecuali pada beberapa kemungkinan:

Kemungkinan pertama adalah seorang yang datang mengakui bahwa dirinya telah berzina. Ini pun Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berusaha untuk memberikan kesempatan kalau dia mau mencabut ucapannya kembali sebagaimana dalam riwayat berikut: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu bahwa datang seseorang dari kaum Muslimin kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, sedang beliau berada di masjid. Orang itu memanggil Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah berzina.” Rasulullah pun memalingkan wajahnya. Kemudian orang itu bergeser ke hadapan muka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sambil berkata kembali: “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah berzina.”

Beliau pun berpaling kembali ke arah lain. Dan orang itu pun kembali mengikuti ke hadapan muka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan mengucapkan kembali ucapannya, demikian sampai empat kali. Setelah empat kali orang itu mempersaksikan atas dirinya dengan zina, Rasulullah memanggilnya dan bersabda: “Apakah engkau gila?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau berkata lagi: “Apakah engkau seorang yang muhsan ?” Orang itu menjawab: “Ya.” Maka Nabi pun memerintahkan kepada kaum Muslimin: “Pergilah kalian membawa orang ini dan rajamlah ia.” (HR. Muttafaqun `alaih)

Dalam riwayat Bukhari, orang tersebut ketika dirajam sempat lari. Yaitu pada saat mulai terasa batu-batu itu menyakiti tubuhnya.

Namun orang-orang mengejarnya dan melanjutkan hukuman rajam sampai matinya. Ketika disampaikan kejadian larinya orang tersebut, Rasulullah bersabda: “Tidakkah kalian biarkan orang itu lari. Barangkali orang itu bertaubat kepada Allah dan Allah menerima taubatnya.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak membawanya kembali kemari.” (HR. Abu Dawud)

Oleh karena itu, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad menyatakan: Bolehnya seorang yang sudah mengaku berzina mencabut kembali pernyataannya dan jika orang tersebut lari tidak dikejar, semoga dia mau ruju’ dan mencabut kembali ucapannya. Sekali lagi ini adalah khusus bagi yang datang mempersaksikan dirinya bahwa ia telah berzina. Inilah kasih sayang Islam kepada manusia. Tidak sekejam apa yang digambarkan oleh orang-orang kafir dan munafiqin

Kemungkinan kedua adalah seorang yang sangat biadab, berzina di tempat terbuka dan menjadi tontonan manusia tanpa merasa malu apalagi merasa berdosa. Atau bahkan — maaf-maaf — menjadi pemain dalam adegan-adegan porno didepan para penonton yang membayarnya. Sungguh fitrah kita pun ingin merajam orang yang seperti ini sebelum kita mengerti hukum rajam. Atau kemungkinan ketiga terbukti dengan kehamilan. Berkata Umar bin Khattab dalam khutbahnya: “…Sesungguhnya rajam itu adalah hak di dalam kitab Allah bagi orang yang berzina jika ia seorang yang muhsan, baik ia laki-laki maupun perempuan jika telah tegak bukti-bukti (saksi-saksi). Atau adanya kehamilan, atau ia mempersaksikan dirinya dengan zina.” (Muttafaqun `alaih).

Rahmat Kepada Hewan

Kepada hewan sekali pun Islam tetap mengajarkan untuk memberikan kasih sayangnya.

Dalam memelihara kita harus memberinya makan yang cukup. Dalam menunggangi kita dilarang memberikan beban yang terlalu berat. Dalam menyembelih kita harus menggunakan pisau yang tajam dan di tempat yang langsung mematikan, yaitu di lehernya. Dan seterusnya.

Pernah suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memasuki perkampungan kaum Anshar. Kemudian beliau masuk ke suatu tembok kebun salah seorang dari mereka. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta yang kurus. Ketika melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, unta itu menangis, merintih dan meneteskan air mata. Maka beliau pun mendekatinya lalu mengusap perutnya sampai ke punuknya dan ekornya. Unta itu pun tenang kembali. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Siapa penggembala unta ini?”

atau dalam riwayat lain beliau bersabda: “Siapa pemilik unta ini?” Maka datanglah seorang pemuda dari Anshar, kemudian berkata: “Itu milikku ya Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berkata: “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya.”

Yakni beliau menegur si pemilik unta tersebut karena dia kurang dalam memberi makan, tetapi mempekerjakannya dengan beban yang terlalu berat. Maka beliau menegurnya dengan ucapan: “Tidakkah kamu takut kepada Allah.” Ini mengandung ancaman bagi orang yang menyiksa hewan peliharaannya. Bukankah ini suatu rahmat dan kasih sayang yang besar.

Penutup

Demikianlah apa yang bisa saya tulis tentang kasih sayang dan rahmat Islam kepada seluruh manusia. Mudah-mudahan Allah menambahkan kepada kita dan para pembaca sekalian keilmuan dan keimanan. Amin.

Wallahu a`lam bis-shawab.

Maraji’:1). Tafsirul Adhim, Ibnu Katsir, cet. Darus Salam, tahun 1413 H / 1992 M.. 2). Fathul Bari, Ibnu Hajar, cet. Darul Fikr, tahun 1414 H / 1992 M. 3). Shahih Muslim dengan Syarah Imam Nawawi, Muslim bin Hajjaj, cet. Darul Ma’rifah, tahun 1414 H / 1994 M. 4). Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Syaikh Al-Albani, cet. Maktabah Al-Ma’arif, tahun 1415 H / 1995 M. 5). Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, Imam Ash-Shan`ani, cet. Darul Kitab, th. 1414 H / 1994 M. 6). Al-Hilm, Al-Hafidh Ibnu Abi Dunya dengan tahqiq Majdi Sayyid Ibrahim, cet. Maktabatul Qur’an, tanpa tahun. 7). Nurul Yaqin, Syaikh Muhammad Al-Khudari, cet. Darul Fikr, tahun 1414 H / 1994. 8). An-Nihayah fi Gharibil Hadits, Ibnu Atsir, cet. Darul Fikr, tahun 1399 H / 1979.

Dikutip salafy.or.id offline dari tulisan al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed, judul asli Islam sebagai Rahmat untuk Seluruh Alam

Ubah Bahasa